Rabu, 23 Desember 2009

Haji

Haji menurut Islam-Jawa yang sebagian merupakan warisan ajaran Syekh Siti Jenar tidak lain adalah olah spiritual. Karena kalau hanya sekedar mengunjungi Makkah dalam arti fisik, bagi orang Islam-Jawa itu cukup dengan “ngeraga sukma”. Dalam arti seseorang mampu pergi ke Makkah kapan saja dia mau. Oleh karenanya, bagi mereka, Makkah letaknya bukanlah sebatas geografis, yakni terletak di Dataran Arab Saudi. Bagi Muslim-Jawa, Makkah berada di dalam spirit manusia yang tidak ditempuh dengan hanya menggunakan bekal rupiah. Hal ini dapat ditinjau dari ungkapan dalam Suluk Wijil:

Samana ngling Molana Maghribi
Singgih pakanira awangsal
Nora ing Mekah rekeh
Ing Mekah kulon iku
Mekah tiron wastanireki
Watu ingkang kinarya
Pangadhepan iku
Nabi Ibrahim akarya
Nusa Jawa yen tuwan tinggala kapir

Lan tuwan awangsul
Nora ana weruh ing Mekah iki
Alit mila teka ing awayah
Mang tekaa parane
Yen ana sangunipun
Tekeng Mekah tur dadi wali

Sangunipun alarang
Dahat dening ewuh
Dudu srepi dudu dinar
Sangunipun kang sura lagaweng pati
Sabar lila ing donya

(Maulana Maghribi berkata demikian,” Baiklah engkau kembali, yang engkau cari tidak ada di Makkah. Makkah yang terletak di barat(Nusa Jawa) itu, Makkah tiruan namanya. Batu yang dibuat sebagai tempat menghadap adalah buatan Nabi Ibrahim. Jika Nusa Jawa engkau tinggalkan, akan menjadi kafir// Tak ada yang tahu dimana Makkah yang sebenarnya. Meski ia harus berjalan dari kecil hingga tua. Tak akan mencapai tujuan. Jika ada bekal sampai di Makkah dan menjadi Wali, maka bekalnya sangat mahal, sukar diperoleh. Bukan rupiah maupun dinar bekal tersebut. Tapi keberanian, kesanggupan mati, dan sabar serta ikhlas di dunia).

Dari penuturan suluk wijil tersebut, jelas bahwa haji adalah olah spiritual untuk mencapai keyakinan hidup yang hak, yaitu berani dan sanggup mati dalam kebenaran, serta sabar dan ikhlas dalam hidup di dunia. Dimana ruh masih terpenjara dalam wadaq ini. Hidup ikhlas adalah hidup tidak terkontaminasi nafsu berebut kuasa, harta, kelezatan hidup di dunia (Chodjim, 2002,209). Maka keikhlasan menjalani hidup menjadi tujuan dari haji. Untuk dapat ikhlas perlu laku atau olah spiritual.

Untuk mampu memperoleh laku yang benar, juga diperlukan keberanian dan kesanggupan memilih jalan yang diyakini benar. Sebagiannya adalah keberanian dan kesanggupan untuk hidup bersahaja dan bersih dari segala perbuatan yang tercela dan mungkar. Hati terbebas dari segala iri, dengki, dendam, kesumat, kikir dan tamak. Pikiran bersih dari keterikatan dengan kelezatan dunia. Rohani dimerdekakan, dan keberagamaan tidak terbelenggu oleh sekedar formalitas. Dan untuk itu semua dibutuhkan kesabaran, memiliki daya juang, dan tidak mudah menyerah dalam upaya mencapai tujuan. Tegar dan kokoh dalam perjuangan hidup yang benar, dan kemauan mempertahankan keyakinan atas kebenaran itu.

Di balik kesabaran itu, juga tersembul kemauan menjaga harmonisme segala hal di dunia ini. Tidak egois, tidak mau menang sendiri, tidak menyerobot hak orang lain. tidak mempermainkan kekuasaan, tidak melanggar hak-hak orang lain. ia selalu memperjuangkan hak hidup dengan tanpa mengorbankan hak orang lain. ia memperjuangkan haknya sekaligus hak orang lain.

Muslim Jawa dalam beragama tidak hanya terikat pada simbol. Sehingga termasuk Ka’bah misalnya, yang berada di Makkah hanya disebut sebagai tiruan yang dibuat manusia. Ka’bah yang sesungguhnya tidak diketahui letaknya karena berada di alam spiritual. Ka’bah diri berada di kedalaman ceruk hati. Oleh karenanya kebenaran dan kejujuran tidak harus diburu di Makkah, justru di Jawa juga menyediakan banyak ajaran spiritual yang jika ditinggalkan untuk memburu di Makkah, malah membuat orang Jawa akan menjadi kafir. Yakni akan kehilangan kebijaksanaan tradisional dan spiritualitas yang genuine dari kedalaman dirinya sendiri. Untuk menciptakan kesejahteraan, ketentraman, dan untuk mampu mendekati Tuhan, ternyata memang seharusnya tidak boleh meninggalkan kebijaksanaan yang berakar pada tradisi ritual dari bangsa lain. Allah menyediakan semua tempat dengan ragam hikmah (wisdom)-nya masing-masing. Untuk itulah konsep keberbedaan harus disatukan dalam kerangka lita’aruf (saling mengenal). Mereka yang mampu mengenal hikmah yang beragam itu disebut Allah sebagai mereka yang paling sanggup mencapai ketakwaan.

Zakat

Syekh Siti Jenar memberikan makna aplikatif zakat sebagai sikap menolong orang lain dari penderitaan dan kekurangan. Menolong orang lain agar dapat hidup, menikmati hidup, sekaligus mampu bereksis menjalani kehidupan. Syekh Siti Jenar sendiri bertani yang merupakan pekerjaan favorit pada masa hidupnya. Namun tidak semua masyarakat petani berhasil hidupnya sebagaimana pula tidak selalu berhasil baik dari panennya. Yang tidak berhasil panennya tentu mengalami kekurangan bahkan kelaparan. Syekh Siti Jenar selalu membantu mereka yang kurang berhasil tadi dengan memberikan sebagian hasil panennya dari tanahnya yang luas kepada mereka itu. Inilah yang disebut sebagai zakat secara fungsional.

Suka memberi adalah sifat-Nya, dan Dia senang melihat hamba-Nya mencontoh sifat suka memberi yang menjadi sifat-Nya itu. Perbendaharaan Tuhan tidak akan kosong, dan bila Allah memberi Dia akan memberi dengan tangan-Nya yang terbuka. “Barang siapa yang datang membawa amal yang baik, maka ia akan mendapat pahala sebanyak sepuluh kali lipat dari kita, dan barangsiapa yang datang membawa perbuatan yang jahat, dia tidak mendapatkan pembalasannya, melainkan yang seimbang dengan kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (QS Al-An’am/6: 160)

Sebagaimana makna katanya, zakat memiliki kegunaan sebagai arena pembersihan harta dan jiwa. Terutama membersihkan dari keegoan, sehingga tujuan zakat rohani menjadi tercapai. “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya, dia akan mendapatkan pahala yang banyak”.(QS Al Hadid/57:11). Inilah hakikat pahala zakat, baik jasmani maupun rohani.

Sehingga terhadap harta pinjaman dan titipan dari Allah, kita melakukan penyucian diri dengan mengeluarkan zakat, bersedekah, serta berbuat amal jariyah. Dalam hal inilah, patokan kita bukan sekedar patokan minimal 2,5%, namun bisa lebih dari itu. Bahkan para sufi terkadang berzakat 100% dari seluruh harta yang diterimanya. Selain ia membersihkan dari daki-daki dunia, ia juga memanjangkan umur dan menyelamatkan diri dari siksa sengsara akhirat. Betapa beruntungnya para pemilik harta yang menyedekahkan hartanya sehingga ia mendapatkan ganjaran yang tidak dapat ditebus dengan uang nantinya. “Mereka yang menyedekahkan hartanya kepada orang lain, hartanya tidak akan berkurang. Bahkan, harta itu akan bertambah, dan bertambah.” (Sabda Nabi).

Jadi, pemahaman sufi atas harta jelas. Harta dan semua yang ada adalah milik Tuhan. Manusia diberi limpahan-Nya agar digunakan sebagai alat bagi perjalanan rohaninya menuju Tuhan. “Kamu tidak akan sampai kepada ketaatan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan itu, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran/3:92). Zakat bagi para sufi merupakan langkah untuk memberikan “kado” atau hadiah terindah untuk Tuhan, sekaligus untuk manusia dengan disertai kebersihan niat jiwa, dan kesucian hati. Tegasnya, sebagaimana dikemukakan Syekh Siti Jenar, zakat adalah kesediaan untuk menolong manusia yang kekurangan, baik harta fisik maupun harta rohani sehingga mereka terhindar dari kemiskinan, kekurangan, kelaparan fisik maupun spiritual. Betapa indahnya dunia jika dihuni manusia sufi seperti ini.

Puasa

Puasa dalam ketentuan syariat adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh. Sejak masuk subuh hingga masuk waktu maghrib. Sedangkan puasa dari segi rohani bermakna membersihkan semua pancaindera dan pikiran dari hal-hal yang haram, selain menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkannya yang telah ditetapkan dalam puasa syariat. Dalam puasa harus diusahakan keduanya berpadu secara harmonis.

Puasa dari segi rohani akan batal bila niat dan tujuannya tergelincir kepada sesuatu yang haram, walau hanya sedikit. Puasa syari’at berkait dengan waktu, tetapi puasa rohani tidak pernah mengenal waktu. Terus menerus dan berlangsung sepanjang hayat du dunia dan akhirat. Inilah puasa yang hakiki, seperti yang dikenal oleh orang yang hati dan jiwanya bersih. Puasa adalah pembersihan diatas pembersihan.

Puasa tidak bermakna kalau tidak membawa pelakunya kepada kedekatan terhadap Allah. Orang awam akan cepat berbuka begitu waktu buka tiba. Tetapi orang yang rohaninya ikut berpuasa, tidak akan pernah berhenti berpuasa secara rohani walaupun secara fisik ia juga berbuka sebagaimana orang lain.

Jika orang awam merasakan kebahagiaan berpuasa saat berbuka dan pada saat melihat datangnya bulan Syawal setelah satu bulan berpuasa penuh, maka lain bagi orang yang ‘arif. Orang yang telah berma’rifat lebih mengutamakan dimensi spiritual. Ia akan menganggap kenikmatan berbuka adalah pada waktu kelak ia memasuki taman surga dan menikmati segala hal di dalamnya. Sedangkan maksud kenikmatan ketika melihat adalah kenikmatan yang diperoleh bila mereka dapat melihat Allah dengan matahati sebagai salah satu efek dari puasanya.

Namun masih ada jenis puasa yang lebih tinggi, yakni puasa hakiki atau puasa yang sebenarnya. Puasa ini memiliki martabat yang lebih bagus dari kedua puasa diatas. Puasa ini adalah puasa menahan hati dari menyembah, memuji, memuja, dan mencari ghairullah (yang selain Allah). Puasa ini dilakukan dengan cara menahan mata hati dari memandang ghairullah, baik yang lahir maupun yang batin. Namun walaupun seseorang telah sampai kepada tahapan puasa hakiki, puasa wajib tetap dibutuhkan sebagai aplikasi syari’atnya, dan sebagai cara serta sarana menggapai kesehatan fisik. Sebaliknya, jika puasa hanya memenuhi ketentuan syariat, maka “iku wis palson kabeh”, hanya sebentuk kebohongan beragama semata. Puasa merupakan tindakan rohani untuk mereduksi watak-watak kedzaliman, ketidakadilan, egoisme, dan keinginan yang hanya untuk dirinya sendiri. Inilah yang diajarkan Syekh Siti Jenar. Buahnya adalah kejujuran terhadap diri sendiri, orang lain dan kejujuran di hadapan Tuhan tentang kenyataan dan eksistensi dirinya.

Dalam puasa hakiki, hati dibutakan dari pandangan terhadap ghairullah dan tertuju hanya kepada Allah serta cinta kepada-Nya. Dengan puasa hakiki inilah esensi penciptaan akan terkuak. Manusia adalah rahasia Allah dan Allah rahasia bagi manusia. Rahasia itu berupa nur Allah. Nur itu adalah titik tengah (centre) hati yang diciptakan dari sesuatu yang unik dan gaib. Hanya ruh yang tahu semua rahasia itu. Ruh juga menjadi penghubung rahasia antara Khaliq dan makhluk. Rahasia itu tidak tertarik dan tidak pernah menaruh cinta kepada selain Allah. Dengan puasa hakiki, ruh itu diaktifkan. Oleh karenanya jika ada setitik dzarrah pun cinta terhadap ghairullah, batallah puasa hakiki. Jika puasa hakiki batal maka kita mengulanginya, menyalakan kembali niat, dan harapan kepada Allah di dunia dan akhirat. Puasa hakiki hanyalah menempatkan Allah di dalam hati, menjalani proses kemanunggalan meng-Gusti-kan perwatakan kawula.

Dengan puasa hakiki, maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya puasa merupakan hadiah Allah untuk umat manusia. Sehingga bagi hamba Allah yang telah mencapai ma’rifat, akhirnya puasa wajib dan sunnah bukanlah berbeda. Secara lahiriah keduanya memang berbeda dari segi waktu dan cara pelaksanaannya, akan tetapi secara batiniah, esensi kedua jenis puasa itu tidak berbeda. Dengan berpuasa secara hakiki, tidak ada sekat wajib atau sunnah lagi, yang ada adalah menikmati hadiah dari Allah bagi rohani kita.

Sehingga dengan pemahaman dan pelaksanaan puasa yang seperti itu, maka akhirnya puasa tersebut akan mampu menjadi katalisator bagi hawa nafsu kita, dan hati akan semakin berkilau oleh bilasan nurullah. Ia akan menjadi motor penggerak bagi ruh al-idhafi, sebagai efek kebeningan hatinya yang dengan itulah keseluruhan kehidupan akan ditunjukkan menuju kearah al-Haqq, Illahi Rabbi.

Bagi Syekh Siti Jenar, puasa hakiki akan melahirkan watak manusia yang pengasih. Mengantarkan kesadaran untuk selalu ikut berperan serta mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan, berperan aktif memerangi kemiskinan, dan selalu menyertai sesama manusia yang berada dalam penderitaan. Puasa hakiki adalah kesadaran batin untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hal yang harus dikalahkan, dan ke-dzalim-an sebagai hal yang harus ditundukkan.

Oleh Syekh Siti Jenar, puasa secara lahir disubstitusikan dengan kemampuan untuk melaparkan diri. Bukan sekedar mengatur ulang pola makan di bulan Ramadhan, tetapi mampu “ngelakoni weteng kudu luwe”, membiasakan diri lapar, bukan membiarkan kelaparan. Sehingga terciptalah sistem masyarakat yang terkendali hawa nafsunya. Dan tentu saja, Syekh Siti Jenar tidak memaknai “kudu luwe” sebagai alasan lembeknya manusia secara fisik. Hal tersebut harus dikontekstualisasikan dengan kecukupan gizi yang harus terpenuhi bagi aktivitas fisik. Yang terpenting adalah kemauan dan kesadaran untuk berbagi, untuk tidak hanya memuaskan apa yang menjadi tuntutan hawa nafsunya.

Sholat 2

Jika shalat telah dihilangkan makna hakikatnya, hanya menjadi sekedar pelaksanaan hukum fikih sebagaimana tampak pada kebanyakan manusia dewasa ini, maka shalat tersebut telah kehilangan makna fungsionalnya. Hal inilah yang telah mendatangkan kritik tajam dari Syekh Siti Jenar.

Sadat salat pasa tan apti
Seje jakat kaji mring Mekah
Iku wes palson kabeh
Nora kena ginugu
Sadayeku durjaning bumi
Ngapusi liyan titah
Sinung swarga besuk
Wong bodho anu auliya
Tur nyatane pada bae durung uning

Artinya:
Syahadat, sholat, puasa semua tanpa makna
Termasuk zakat dan haji ke Mekah
Itu semua telah menjadi palsu
Tidak bisa dijadikan anutan
Hanya menghasilkan kerusakan di bumi
Membohongi makhluk lain
Hanya ingin surga kelak
Orang bodoh mengikuti para wali
Sementara kenyataannya sama saja belum mencapai tahapan hening

Syekh Siti Jenar mengkritik pelaksanaan hukum fikih pada masa walisanga karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan tujuan, kehilangan arti, dan hikmah kehidupan. Hal itu menjadikan semua ajaran agama yang diajarkan oleh para ulama ketika itu menjadi kebohongan yang meninabobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak yang belum ada kenyataanya.

Oleh karenanya Syekh Siti Jenar mengajarkan praktik shalat fungsional, berbeda dengan para wali pada masanya. Shalat tarek sebagai bentuk ketaatan syari’at, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa, dan mewarnai seluruh pekerti kehidupan. Seseorang yang melaksanakan pekerjaan profesionalnya secara benar, disiplin, ikhlas, dan karena melaksanakan fungsi lillahi ta’ala, maka orang tersebut disebut melaksanakan shalat. Itulah bagian dari shalat da’im.

Namun ternyata, ajaran shalat fungsional tersebut tidak hanya menjadi milik Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Wujil bait 12-13, sebuah naskah yang ditulis pada awal abad ke-17, yang disebut-sebut sebagai warisan ajaran Sunan Bonang, menyebutkan ajaran shalat sebagai berikut:

Utamaning sarira puniki
Angrawuhana jatining salat
Sembah lawan pamujine
Jatining salat iku
Dudu ngisa tuwin magerib
Sembahyang araneka
Wenange punika
Lamun aranana salat
Pun minangka kekembanging salat daim
Ingaran tata krama
Endi ingaran sembah sejati
Aja nembah yen tan katingalan
Temahe kasor kulane
Yen sira nora weruh
Kang sinembah ing donya iki
Kadi anulup kaga
Punglune den sawur
Manuke mangsa kenaa
Awekasa amangeran adan sarpin
Sembahe siya-siya.

(unggulnya diri itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan pujian. Shalat yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya dan maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila itu disebut shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat daim. Hanyalah tata krama . manakah yang disebut shalat yang sesungguhnya itu? Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah. Akibatnya dikalahkan oleh martabat hidupmu. Jika didunia ini engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, maka engkau seperti menyumpit burung. Pelurunya hanya disebarkan, tapi burungnya tak ada yang terkena tembakan. Akibatnya cuma menyembah ketiadaan, suatu sesembahan yang sia-sia.

Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu yang hanya dilakukan berdasarkan ukuran formalitas, hanya sebentuk tata krama, aturan keberagamaan. Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang sebenarnya. Yakni, kesadaran total akan kehadiran dan keberadaan Hyang Maha Agung di dalam dirinya, dan dia merasakan dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat. Wudhu, membuang air besar, makan dan sebagainya adalah tindakan sembahyang. Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang tiada putus. Ya, shalat yang mampu membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan ke-mungkar-an. Mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin.

Sholat

“Peliharalah shalatmu dan shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalat) yang khusyuk” (QS Al. Baqarah/ 2:238). Ini adalah penegasan dari Allah tentang kewajiban dan keharusan memelihara shalat, baik segi dzahir maupun batin dengan titik tekan “khusyuk”, kondisi batin yang mantap.

Secara lahir, shalat dilakukan dengan berdiri, membaca Al-Fatihah, sujud, duduk dsb. Kesemuanya melibatkan keseluruhan anggota badan. Inilah shalat jasmani dan fisikal. Karena semua gerakan badan berlaku dalam semua shalat, maka dalam ayat tersebut disebut shalawaati (segala shalat) yang berarti jamak. Dan ini menjadi bagian pertama, yakni bagian lahiriah.

Bagian kedua adalah tentang shalat wustha, yaitu yang secara sufistik adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan pertengahan atau tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah “diri”, maka dikatakan shalat wustha sebagai shalat hati. Tujuan shalat ini adalah untuk mendapatkan kedamaian dan ketentraman hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas dan bawah, serta antara baik dan jahat. Hati menjadi titik tengah, poin pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada diantara dua jari Allah, dimana Allah membolak-balikkannya ke mana saja yang ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang Menghukum dan Meng-adzab dengan sifat Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang Lemah Lembut.

Sholat dan ibadah yang sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya hati, kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk, maka jasmaniahnya akan berantakan. Sehingga kalau ini terjadi, kedamaian yang didambakan akan hancur pula. Apalagi shalat jasmani hanya bisa dicapai dengan hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta tidak dapat konsentrasi pada arah yang dituju dari shalat, maka hal itu tidak bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat dipahami apa yang diucapkan, dan tentu apa pun yang dilakukan dengan bacaan dan gerakannya tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.

Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan dengan inti shalat sebagai doa. Doa atau munajat, bukan sekedar permintaan hamba kepada Allah, akan tetapi berarti juga sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu adalah di dalam hati. Maka jika hati tertutup di dalam shalat, tidak peduli akan makna shalat rohani, shalat yang dilakukan tersebut tidak akan memberikan manfaat apa pun. Sebab semua yang dilakukan jasmaninya sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan. “Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, apabila daging itu baik, baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusak, rusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati. “ (sabda Rasulullah)

Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat yang menghasilkan kesehatan hati. Shalat khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang rusak dan jahat serta berpenyakit. Maka shalat yang baik haruslah dengan hati yang sehat dan baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat hadir kepada Allah.

Jika shalat dari sisi jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam semua hal, baik tempat, waktu, kesucian badan, pakaian, dsb, maka shalat dari segi rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu. Shalat ini selalu dilakukan terus menerus sejak di dunia hingga akhirat. Masjid untuk shalat rohani terletak dalam hati. Jamaahnya terdiri dari anggota-anggota batin atau daya-daya rohaniah yang ber-dzikir dan membaca al-asma’ al-husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam dalam shalat rohani adalah kemauan atau keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar.

Shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas, hati yang tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan jiwa seperti itu kekal dan selalu beribadah atau shalat ketika jasmaninya sedang tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan sepanjang hayat, dan sepanjang hayatnya adalah untuk beribadah.

Inilah ibadah orang yang sudah mencapai ma’rifatullah, tempat penyucian tertinggi. Di tempat itu, ia ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah fana’, telah hilang lenyap. Ingatannya yang teguh dan suci tercurah hanya kepada Allah.

Namun tentu saja ini berlaku setelah semua shalat-shalat fardhu dan nawafil dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat suci tersebut baru bisa dijangkau setelah semua shalat syari’at itu sempurna, lalu masuk ke dalam shalat thariqat dan ma’rifat. Maka tidak bisa diartikan bahwa jika sudah berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi melakukan shalat sama sekali. Bahkan sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana’ dalam munajat-nya sehingga ibadah yang dilakukannya itu menyita banyak waktu. Hanya saja bentuk shalat dalam arti gerakan dan bacaan tertentu sudah tidak mengikat lagi. Shalat ditegakkan atas kemerdekaan rohani dalam menempuh laku menuju Allah.

Pada tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut. Tidak ada lagi gerakan berdiri, ruku’, sujud, dsb. Dia telah berbincang dengan Allah sebagaimana firman-Nya “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS Al-Fatihah/1: 5)

Firman tersebut menunjukkan betapa tingginya kesadaran insan kamil, yakni mereka yang telah melalui beberapa tingkatan alam rasa dan pengalaman rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan Allah dan ber”padu” dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan saat itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang yang mengalaminya yang dapat mengalaminya yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut. Namun mereka pun sering tidak mau mengungkapkannya. Tidak ingin membocorkan rahasia Ketuhanan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh Allah.

Hal tersebut sama halnya dengan hakikat takbir, yang bukan semata-mata ucapan “Allahu Akbar”. Takbir merupakan pengucapan yang lahir dari firman Allah yang memuji kebesaran Dzat-Nya. Jadi, takbir sebenarnya merupakan suara Tuhan yang meminjam mulut hamba-Nya. Bukan hasil dari dorongan emosional. Karenanya, takbir sejati adalah menyatakan kebesaran Allah dari af’al Allah sendiri. Takbir sejati merupakan penghayatan diri terhadap sifat Allah. Dan takbir sejati adalah penyebutan nama-Nya yang lahir dari kehendak-Nya semata. Dengan takbir yang demikian itu maka yang lain menjadi sangat kecil, dan menjadi tidak ada. Yang ada hanya Allah. Ke mana pun kita menghadap yang ada hanya Wajah Allah.

Maka setelah berpadu ibadah lahir dan batin secara harmonis, sempurnalah ibadah seseorang. Hati dan ruh seperti tergambar itu membawanya masuk ke Hadirat Allah. Hatinya ber”padu” mesra dengan Allah. Dalam alam nyata ia menjadi hamba yang wara’ dan ‘alim. Dalam alam rohani ia menjadi ahli ma’rifah yang telah sampai pada peringkat kesempurnaan mengenal Allah. Inilah makna bahwa shalat adalah perjalanan menuju Allah. Hasilnya adalah bahwa shalat yang dilaksanakan mencegah perilaku yang keji dan munkar. Sebaliknya menghasilkankehalusan dan kemuliaan budi dan perilaku.

Sasahidan

Syahadat (Sasahidan Ingsun Sejati)

Selama ini, syahadat umumnya hanya dipahami sebagai bentuk mengucapkan kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad al-rasul Allah”. Dan karena hanya pengucapan, wajar jika tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun toh dapat mengucapkannya, walau kebanyakan tidak memahaminya. Padahal makna sesungguhnya bahwa syahadat adalah “kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat yang menyatakan bahwa ia telah bersaksi.

Ketika kita mengucakan kata “Allah”, maka kata ini harus hadir dan lahir dari keyakinan yang mendalam. Pada saat pengucapan, kita harus yakin bahwa Allah “ada” pada diri nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita mampu membawa peran nabi tersebut. Dalam ma’rifat, nabi dan kenabian sebagai suatu hal yang selalu hidup. Dan ketika person nabi terakhir diberi label “Muhammad”, maka ia adalah langsung dari nur dan ruh Muhammad, dan menyandang nama spiritual sebagai “Ahmad”. Dan ketika kata “Ahmad” disebutkan, Nabi Muhammad sering mengemukakan bahwa “ana Ahmad bila mim” (aku adalah Ahmad yang tanpa mim), yakni “Ahad”. Ketika suku bangsa dzahir “arab” disebutkan, beliau sering mengemukakan “ana ‘arabun bila “Ain”, (aku adalah “Arab tanpa ‘Ain), yakni “Rabb”. Inilah kesaksian itu, atau syahadat.

Kalau kita membayangkan nabi secara fisikal maka kita akan menghayalkan tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita rasakan hadir atau bersemayam dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati kita, maka terlepaslah ucapan “Muhammad al-Rasul Allah” sebagai kesaksian. Lalu kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat Allah. Sehingga kemudian tercipta apa yang disebut sebagai “Tunggal ing Allah hiya kang amuji hiya kang pimuji”, kemanunggalan dengan Allah sehingga baik yang memuji dan yang dipuji tidak dapat dipisahkan.

Pada konteks syahadat yang seperti itulah kemudian lahir ajaran tentang “wirid sasahidan” dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183)

Ingsun anakseni ing datingsun dhewe
Satuhune ora ono pangeran among ingsun
Lan nekseni satuhune Muhammad iku utusaningsun
Iya sejatine kang aran Allah iku badaningsun
Rasul iku rahsaningsun
Muhammad iku cahyaningsun
Iya ingsun kang urip tan kena ing pati
Iya ingsun kang eling tak kena lali
Iya ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati
Iya ingsun kang waskitha ora kasamaran ing sawiji-wiji
Iya ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerti
Byar
Sampurna padhang terawangan
Ora kerasa apa-apa
Oa ana katon apa-apa
Mung ingsun kang nglimputi ing alam kabeh
Kalawan kodratingsun.

Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku

Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa kesaksian tersebut diperoleh berdasarkan lelaku. Maka setelah lahirnya kesaksian tersebut juga harus disertai dengan lelaku pula. Yaitu diikuti dengan semedi atau dzikir rasa sehingga kemudian dapat mengalami mati dalam hidup dan hidup dalam mati. Dzikir seperti ini dilakukan dengan meng-heneng-kan diri dan mengheningkan cipta serta karsa sehingga kembali tercipta kesatuan hati, pikiran dan rasa hidup. Hal ini dilakukan dengan menyatukan pancaindera, memejamkan mata dan mengarahkannya ke pucuk hidung (pucuking ghrana), sambil menyatukan denyut jantung, harus diatur pula pernapasan yang masuk dan keluar jangan sampai tumpang tindih.

Biasanya praktik sasahidan ini akan berujung pada bercampurnya rasa hati dan hilangnya segenap perasaan. Kalau sudah mencapai kondisi ini, maka harus diturunkan ke dalam jiwa dan menyebar ke seluruh sel-sel dan syaraf tubuh. Sehingga akan tercapailah ketiadaan rasa apapun dan akan memunculkan sikap ke-waskitha-an (eling lan waspadha).

Dengan demikian wajar jika pada kesimpulannya tentang makna syahadat, Syekh Siti Jenar memberikan makna syahadat sebagai etos gerak, etos kerja yang positif, progresif, dan aktif. Syekh siti jenar mengemukakan bahwa syahadat tauhid dan syahadat rasul mengandung makna jatuhnya rasa (menjadi etos), kesejatian rasa (unsur motorik), bertemunya rasa (ide aktif dan kreatif), hasil karya yang maujud serta dampak terhadap kesejatian kehidupan (Sholikhin: 2004, 187). Itulah makna syahadat yang sesungguhnya dari sang insan kamil.

Syariat Dan Tarekat

Syekh Siti Jenar Tentang Syari’at dan Tarekat

Untuk mengetahui keberimbangan dan aplikasi syari’at dan tarekat ( yang meliputi juga ma’rifat dan hakekat) dari Syekh Siti Jenar, serta Islam-Jawa umumnya, dapat diperhatikan dalam Serat Nitisruti, Pupuh Dhandanggula, 11-14::

Surasanya kang pinurweng ruwi
Kang minangka lengahuing pandhita
Yen sampun leres rarase
Nulusa raosipun
Jroning nala tanpa ling-aling
Dening sampin waspada
Dununging panebut
Atanapi kang sinembah
Dadi gambuh ngambuh ing kaanan jati
Jati mulyeng kasidan
Rarasing kang mangkana sayekti
Tan kabuki neng manahing janma
Kang tanpa pangawikane
Muwah kang mudha punggung
Bodho bundhu datanpa budi
Marwanira kumedah
Tyas kalaten atul
Met tuladha puruhita
Maring para pandhita putusing jati
Pun wus sirna reregeding angga
Ruwat sagung mamalane
Kadi sarira ayu
Kang mangkana yeka manawi
Trus prapteng jero jaba
Babarane jumbuh
Ning wening tan kawoworan
Ing satemah pan waras keni den wastani
Syuh sirna manungsanya
Tatelane kang mangkono yekti
Wus tan ana Gusti lan kawula
Saking wus sirna rasane
Dene ta kang tan weruh
Ing pangawruh kang wus jinarwi
Ta kena canarita
Caraning tumuwuh
Wis wus kebak mesi wisa
Mung duraka kewala kang den raketi
Beda kang wus swantosa

yang artinya:
Maksud ajaran yang permulaan
Mengenai kedudukan pendeta
Bilamana sudah benar sesuai (penempatannya)
Jujurnya perasaan
Di dalam hati tiada akhir
Karena sudah waspada
Kedudukannya yang menyembah
Dan yang disembah
Menjadi biasa dalam keberadaan sejati
Menjadi mulia yang sebenarnya
Selarasnya yang demikian itu sebenarnya
Tidak terbuka dalam hati manusia
Yang tanpa pengetahuan
Dan yang masih bodoh
Sungguh bodoh pemikirannya
Oleh karena itu haruslah
Hati terus berusaha
Mengambil teladan guru
Kepada para pendeta yang mahir
Sebagai kemuliaan sejati
Maksud rasa hati yang sudah sampai
Pada kebenaran
Kotoran diri yang sudah sirna
Mencegah segala yang tidak baik
Bagaikan tubuh yang cantik
Yang demikian itu bilamana
Sudah sampai luar dalam
Akhirnya selaras
Bersih tak bercampur
Dalam suasana yang indah yang disebut
Benar-benar sifat kemanusiaannya
Jelas sekali sebenarnya yang demikian itu
Sudah tidak ada gusti dan hamba
Karena sudah sirna rasanya
Sedangkan bagi yangtidak tahu
Pengetahuan yang diuraikan
Tak dapat diceritakan
Bagaimana cara hidupnya
Sudah penuh bisa
Hanya kedurhakaan yang dilakukan
Lain halnya bagi yang sudah kokoh budinya

Pupuh tersebut tampak sangat mewakili ajaran mistik dan makrifat Islam-Jawa, terutama yang disebarkan oleh Syekh Siti Jenar, dan sebagian oleh Sunan Kalijaga. Mistik makrifar yang secara mudahnya berarti “inisiasi” adalah praktik kontak spiritual langsung dengan Tuhan melalui pengalaman psikologis. Oleh karenanya rahasia dan rasanya hanya dapat dirasakan oleh pelakunya saja, dan masing-masing pelaku(salik) akan selalu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Namun secara jelas dan tegas dapat dinyatakan bahwa tanpa laku, tanpa penghayatan langsung dan nyata, maka keadaan yang sesungguhnya dari pengalaman keagamaan, rasa agama (al halawat al iman), atau apapun namanya dari buah lelaku tersebut niscaya tidak dapat dirasakan dan tidak bisa diperoleh.

Ma’rifat sendiri walaupun secara umum diartikan sebagai pengetahuan spiritual, tidaklah hanya sebatas itu. Al-‘ilm al-ruhi dan al-’ilm al bathini juga berarti hampir sama, pengetahuan spiritual. Dalam makrifat terdapat kenyataan yang tertangkap dalam diri kita. Dengan bermakrifat itulah komunikasi dan kontak langsung menjadi mungkin terjadi. Demikian pula, pengetahuan keagamaan sedalam apapun tidaklah bisa disebut sebagai ma’rifat. Mendalamnya ilmu-ilmu syariat juga belum tentu sanggup mengantarkan pemiliknya sampai pada kema’rifatan. Mungkin mereka tahu dengan Tuhan, ia tahu sifat-sifat-Nya melalui buku dan guru. Karena mereka hanya tahu dan tidak pernah kontak, maka hasilnya juga menjadi kurang benar. Maka dalam makrifat dibutuhkan lelaku. Dalam bahasa sufi, makrifat merupakan buah dari perjalanan seorang kawula (hamba) kepada Tuhannya (suluk). Dari proses perjalanan itulah maka akan tercapai manunggaling kawula Gusti, wahdat al-wujud, dan diketahui secara jelas apa itu sangkan paraning dumadi (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)

Dalam hal ini syariat bukanlah sekedar aturan-aturan formal keagamaan, yakni yang sering hanya dibatasi sebagai fikih. Sekarang kata-kata “syariat Islam” telah direduksi oleh para agamawan hanya sebatas fikih, aturan formal keagamaan yang dibakukan dalam berbagai karya hukum keagamaan oleh manusia. Fikih sebenarnya hanyalah produk perjalanan ulama dalam sejarah Islam, bukan syariat itu sendiri. Sedangkan syariat dalam tataran makrifat adalah “jalan” yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Adapun cara untuk menempuh laku syariat itu disebut sebagai tarekat, yang tentu juga terkait dengan masing-masing tempat, zaman, tradisi dan budaya yang berbeda. Dalam hal ini tampak bahwa syari’at baru menjadi berarti setelah dilalui melalui proses “tirakat”” atau “lelakon”.

Dalam melakukan hal tersebut, maka yang pertama kali harus diperhatikan adalah upaya melongok ke dalam diri sendiri, introspeksi. Dalam hal inilah diperlukan adanya laku untuk mengendalikan hawa nafsu. Tahapan utama untuk ini adalah khalwat, tahannuts, atau meditasi (menempuh laku heneng dan hening). Jika proses ini berhasil maka akan mengantarkan pelakunya untuk mendapatkan apa yang disebut sebagai “wahyu” (ilham, inspirasi spiritual dan sebagainya). Dari wahyu yang diperoleh, maka akan melahirkan berbagai pengetahuan baru dan perilaku-perilaku yang berasas pada keluhuran budi (‘amal/’amil al shalihat) sebagai buah ber-musyahadah (menyaksikan dan berkontak langsung dengan Allah, atau buah iman). Dengan demikian maka kita berjalan menuju kepada-Nya, kita menyatu dengan-Nya, dan kita telah membangun sikap hidup “manunggaling kawula Gusti”.

Banyak orang yang salah paham dengan konsep manunggal tersebut. Sering manunggal diartikan sebagai menyatunya badan fisik dengan Dzat Tuhan. Ini merupakan kesalahan yang fatal. Dzat Tuhan selalu meliputi makhluk-Nya. Sehingga dzat manusia tidak mungkin bisa dipisahkan dari Dzat Tuhan. Antara ikan dan air tidak bisa dipisahkan, terutama ikannya. Ikan selalu hidup di dalam air. Demikian pula manusia dengan Tuhan. Tuhan selalu bersama manusia di mana saja (QS 57: 3-4).

Manunggal adalah menyatunya sifat, asma’, dan af’al manusia dengan sifat, asma, dan af’al Allah, atau menyatunya kodrat dan iradat manusia dengan kodrat dan iradat Allah, dan semua itu menunjukkan arti dari makna posisi manusia sebagai khalifatullah. Untuk menjadi khalifatullah dibutuhkan pengetahuan langsung apa yang menjadi kehendak dan ketetapan-Nya, tanpa itu maka manusia hanya memper-Tuhankan dirinya sebagai budak hawa nafsu.

Agar mampu menjadi khalifatullah, dimana khalifatullah hanya diemban oleh al insan al kamil, maka kita harus benar-benar berdzikir, meditasi dan semedi. Menyatunya pikiran, perasaan, napas dan bacaan dzikirnya sendiri. Menggulung semua lubang tubuh dengan mengembalikan diri kepada Allah, menuju kondisi suwung (kosongnya diri dari selain Allah), uninong, aning, unang, dengan tanpa kehilangan kesadaran. Saat dzikir dengan ditopang oleh pernapasan yang benar, maka energi spiritual akan menebar ke seluruh tubuh, maka menjadi tenanglah hati. Ala bidzkrillah tathmainna al qulub (ingat, hanya dengan dzikrullah-lah hati akan mencapai ketenangannya).

Hakikat Rukun Islam

Hakikat Rukun Islam Dalam Perspektif Ma’rifat Syekh Siti Jenar

Terkadang terdapat pandangan bahwa dalam tasawuf, atau ketika seseorang telah menjadi sufi, maka rukun islam minimal sudah dipandang sebagai hal yang tidak begitu menentukan bagi proses keberagamaannya. Apalagi berbicara tentang sufisme Syekh Siti Jenar, biasanya langsung memberikan vonis bahwa dalam ajaran Syekh Siti Jenar syari’at menjadi nihil.

Pandangan ini jelas merupakan pandangan yang tidak sepenuhnya benar, karena justru dalam perjalanan rohani menuju Allah bagi seorang sufi, rukun islam tetap menjadi pijakan paling mendasar bagi proses peralihan rohani menuju kesempurnaan sehingga ia sampai pada derajat al insan al kamil yakni manusia illahiah. Hanya saja, dalam sudut pandang kesufian, rukun islam tidak hanya berupa tindakan lahir, ia juga bukan tujuan, akan tetapi diselami maknanya secara spiritual, sehingga rukun Islam yang ada disamping menjadi hiasan lahiriah, juga merupakan aplikasi perbuatan rohani yang menentukan proses perjalanannya menuju Allah. Karena pemahaman yang seperti itulah, maka bagi orang yang sudah berma’rifat, justru syari’at lahir sudah tidak begitu tampak sebagai orientasi utama. Syekh Siti Jenar sendiri tidaklah menihilkan syari’at, namun menempatkan syari’at pada tempat yang semestinya, bukan semata-mata sebagai acuan formal keagamaan yang membelenggu manusia.

Ajaran Hakikat Syech Siti Jenar

Syekh Siti Jenar menyatakan bahwa pelaksanaan kehendak allah dengan rasa kepasrahan merupakan perwujudan “kehendak pribadi”. Ia menjelma menjadi Kehendak Pribadi”, dimana kehendak insani telah dikendalikan oleh kehendak Yang Illahi. Dan itulah yang disebut sebagai adi-manusia. Dalam pupuh III (Dandhanggula): 31-32 Serat Siti Jenar :

Kodrat merupakan kuasa pribadi
Tiada yang mirip atau menyamai
Kekuasaannya tanpa peranti, dari tanrupa menjadi warna-warni
Lahir batin satu sebab sawiji (manunggal)
Iradat artinya karsa tanpa runding
Ilmu berarti mengetahui kenyataan sebenarnya
Yang lepas jauh dari pancaindera
Bagaikan anak sumpitan meluncur lepas tertiup

Adanya kehidupan itu karena pribadi
Demikian pula keinginan hidup itupun ditetapkan oleh diri sendiri
Oleh kehendak nyata
Hidup tanpa sukma yang melestarikan kehidupan
Tiada merasakan sakit ataupun lelah
Suka duka pun musnah karena tiada diinginkan oleh hidup
Berdiri senriri menurut karsanya
Dengan demikian hidupnya kehidupan itu
Sesuai kehendaknya
Syekh Siti Jenar terang pandangannya
Melebihi manusia sesama (adi-manusia)

Disinilah terletak semua daya kekuatan rohani, dan spiritualitas yang mengantarkannya kepada ma’rifatullah, karena daya dari sang “Pangeran”. Dengan hati tersebut, jasad melangkah penuh daya kekuatan hidup dan kekuatan yang paling prima sesuai dengan kehendak Allah. Sehingga dalam diri seorang sufi harus terpadu antara kekuatan spiritual dalam bentuk hati yang tenteram, bahagia dan tenang. Merefleksikan sifat asma’ Allah dengan semangat menegakkan kebenaran Allah di muka bumi sebagai khalifah-Nya.

Syekh Siti Jenar sebagai tokoh utama sufisme Islam-Jawa, menentang upaya pembatasan pengajaran tasawuf hanya untuk kelompok strata masyarakat tertentu. Ia mengajarkan sufisme kepada seluruh lapisan masyarakat yang akhirnya melahirkan tuduhan bahwa ia melakukan pelanggaran adab rohani dalam bentuk miyak warana (membuka tabir rahasia Tuhan). Namun Syekh Siti Jenar tetap mengajarkan hakikat kebenaran walaupun ancaman kematian mengintainya.

Oleh karena itu, semakin jernih keadaan batin seseorang, semakin detail dan dalam pula pemahamannya akan Allah dan Rasul-Nya. Sehingga jelas, tasawuf merupakan ucapan dan kerja merasakan aqidah, bukan menetapkan suatu keyakinan atau sejenis agama baru yang bertentangan dengan nash-nash atau pemahaman keagamaan yang benar. Dan juga tasawuf adalah ilmu yang dibutuhkan oleh setiap manusia dan meliputi seluruh manusia. Hanya saja, memang sebagian memiliki pemahaman mendetail terhadap beberapa nash, dan sebagian yang lain dapat menangkap rincian sejumlah makna nash yang tidak dapat dipahami orang lain. sedangkan Syekh Siti Jenar merupakan tokoh yang sanggup membahasakan nash kitab suci dan sunnah dalam bentuk “bahasa jawa” yang menjadikan ajarannya lebih mudah diserap dan diterima oleh masyarakat yang umumnya awam.

Syekh Siti Jenar menyatakan, “Adanya Allah karena dzikir. Dzikir membuat lenyap Dzat, Sifat, Asma’, dan Af al Yang Maha Tahu. Digulung menjadi ‘antaya” dan rasa dalam diri. Dia itu saya! Timbul pikiran menjadi Dzat yang mulia” (Pupuh II: 3)

“Budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera. Tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur dan seringkl=ali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan. Untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai demikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya. “ (Pupuh III:43-44)

Menurut Syekh Siti Jenar, hati dalam tradisi bangsa Arab hampir sama dengan budi, pikiran, angan-angan, serta kesadaran yang satu wujud dengan akal (ngakal). Tentu saja akal disini berbeda dengan “akal pikiran” menurut bahasa Arab. Sebelum Immanuel Kant berpendapat bahwa argumen berdasar akal bisa salah jika tidak dipimpin Tuhan, dua setengah abad sebelumnya Syekh Siti Jenar sudah menyatakan bahwa budi dan akal merupakan satu wujud yang harus dipimpin oleh Wajibul Maulana. Sayangnya memang Syekh Siti jenar pada masanya hadir di tempat yang belum kondusif untuk mengembangkan pikirannya.

Al Asma' Al Ilahi

Sebutan nama “Allah” menujukkan Dzat Illahi, sedangkan yang lain menunjukkan sifat-sifat-Nya. Oleh karenanya penggunaan nama-nama yang diputuskan sebagai dzikir dan wirid utama seseorang, disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan spiritual seorang sufi. Dalam beberapa tarekat sering para guru memutuskan nama Allah yang berbeda bagi masing-masing muridnya.

Harus pula dipahami meskipun setiap kali salah satu nama Illahi disebutkan, berarti Allah disebutkan melalui seluruh nama-Nya. Syekh Ni’matualiah menyatakan,” Bagi semua nama Allah Dzat adalah Esa. Maka semua nama sebenarnya hanya satu juga”.

Dalam bahasa Syekh Siti Jenar, asma’ Allah biasa berubah menjadi Gusti, Dzat Maulana, Sang Hyang Widhi, Pangeran, Gusti Allah, dan sebagainya. Menurutnya, nama Tuhan adalah buatan manusia. Dimana Dia disebut sesuai dengan bahasa orang yang menyebut-Nya. Apapun sebutan yang diberikan kepada-Nya, tentu sebutan yang terpuji. Oleh karenanya, seruan do’a dan panggilan untuknya juga beraneka ragam, “Ya Tuhan,,,”, “Ya Allah,,,” , juga “duh Gusti,,, “, dan sejenisnya.

Terdapat 12 dzikir asma’ Allah (tiga diantaranya adalah nama Keesaan, tauhid, Allah) yang sangat utama dan sering digunakan dalam berbagai tarekat.
1. laa ilaaha illallaah (Tidak ada Tuhan selain Allah)
2. Ya Allah (nama Dzat Allah)
3. Ya Huwa (nama Allah yang tanzih)
4. Al-Haqq ( Yang Hakiki)
5. Al Hayy (Yang Hidup)
6. Al Qayyuum (Yang Berdiri Sendiri dan kepada-Nya segala makhluk bergantung)
7. Al Qahhaar (Yang Maha Perkasa Yang Mengatasi seteru-seteru-Nya)
8. Al Wahhaab (Yang Memberikan Tanpa Permintaan atau Dituntut)
9. Al Fattaah (Yang Membuka)
10. Al Waahid (Yang Satu)
11. Al Ahad (Yang Esa)
12. Al Shamad (Yang kepada-Nya Segala Sesuatu Bergantung)

Tujuh asma’ paling awal kadang juga disebut sebagai al-asma’ al-ilahi yang mengacu pada tujuh petala langit (sab’ sama’) dan cahaya-cahaya Illahi (an-waar ilaahi).

Hendaknya nama-nama tersebut didzikirkan dengan hati. Sejalan dengan tujuan utama dzikir-nya, yakni mengingatkan diri tentang kebesaran dan kemahaagungan Allah serta menggambarkan arti nama-nama dan sifat-sifat yang ada dalam dzikir. Peran hatipun akan menjadi dominan. Dengan cara ini, mata hati akan melihat nur tauhid (cahaya Keesaan). Apabila nur Dzat Ketuhanan ter-dzahir-kan atau tertajalli, semua sifat kebendaan atau fisik akan hilang musnah. Semua yang ada menjadi kosong belaka. Inilah kesadaran dimana semua perkara menjadi fana’. Tajalli atau pen-dzahir-an nur Ketuhanan ini memadamkan semua cahaya yang lain. “Setiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah,” (QS Al-Qashash/28:88). “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki, dan menetapkan apa yang Dia kehendaki,” (QS Al-Ra’d/13:39).

Ketika semua telah lenyap, yakni fana’ dihadirat Allah, yang tertinggal hanya Ruh Suci (Ruh al Quddus). Ia melihat dengan Nur Allah. Ia melihat Allah, Allah melihat dia. Ia melihat dengan Allah, ia melihat dalam Allah, ia melihat untuk Allah. Tidak ada bayangan dan tidak ada yang menyerupai Allah. La ilaha illa Allah, la ilaha illa Ana.

Satu yang tertinggal dan mutlak, yakni Nur Suci, sang Ingsun Sejati. Suati karunia yang tinggi yang diberikan kepada orang yang utama. Tidak ada yang ingin diketahuinya pada tingkat ini. Inilah puncak yang dapat dicapai manusia ketika berada di alam fana’ ini. Tidak ada lagi apa pun, kecuali Allah. Dan tidak ada lagi siapa dan apa pun yang menjadi celah diantaranya dengan Allah.

Dan semua itu merupakan kesadaran rohani yang sangat dalam artinya. Hasil dari mengenang dan memusatkan renungan hati pada maksud dan pengertian batin dari sifat dan asma’ Allah. Dalam dirinya kini hanya tinggal kebaikan yang dipenuhi kesyukuran, husn al-dzan, serta ketinggian himmah terhadap Allah. Bahkan terhadap kenikmatan pun ia menjadi lupa, karena sudah terlalu asyik dengan Allah. Dia juga tidak ingat lagi dengan segala bahaya dan bencana, karena sibuk dengan Allah, Ma’iyyatullah. Dan pada dirinyalah terletak banyak karamah yang setiap saat dapat muncul anugerah Allah kepadanya. Itulah keadaan sang insan kamil, auliya’ Allah.

Menuju Kemanunggalan

Penyingkapan Hijab dan Penyucian Diri Menuju Kemanunggalan

Rahasia Mencapai Derajat Insan Kamil

Menurut Syekh Siti Jenar, insan kamil atau manusia sempurna adalah mereka yang telah memiliki upaya terus-menerus bagi peningkatan dan pembersihan dirinya, yakni mereka yang telah mampu memisahkan dan melepaskan dirinya dari hal-hal keduniaan. Karena memasuki wilayah kemanunggalan, walaupun dalam interaksi fisik kemanusiaan tidak terlepas sama sekali.

Tujuan pembersihan ini ada dua: pertama, untuk mencapai sifat-sifat Allah. Yakni, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang mulia. Tataran ini mengantarkanpelakunya pada jumbuhing kawula Gusti. Kedua, untuk mencapai Dzat Allah. Yakni, mengenal-Nya melalui ma’rifat dan hakikat yang mengantarkan pelakunya kepada pamoring kawula Gusti.

Pembersihan diri untuk mencapai sifat Allah memerlukan suatu ajaran yang dapat menunjukkan proses pembersihan cermin hati, yakni dengan cara melaksanakan dzikir dan wirid. Terutama tentang asma’ Allah.

Pengertian dzikir dan wirid dalam konteks ini luas. Tidak hanya sekedar dzikir dan wirid dengan bacaan-bacaan tertentu. Dalam hal ini dzikir dan wirid merupakan lelaku rohani yang memasukkan unsur meditasi sebagai bagian terpenting dari ritual rohani tersebut. Sehingga penyebutan dzikir dan wirid otomatis juga memasukkan meditasi di dalamnya.

Lelaku dzikir adalah kunci untuk membuka pintu hati, dan apabila pintu hati telah terbuka, muncullah dari dalamnya pikiran-pikiran yang ‘arif untuk membuka mata hati. Ketika hati telah terbuka, maka akan tampak dan masuklah sifat-sifat Allah melalui mata hati itu, menggugah ketertenggelaman ruh al idhafi kemudian mata hati akan melihat refleksi kasih sayang, kelembutan, keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan Allah dalam cermin hati yang bersih dan berkilauan (al-mir’u al-haya’i).

Dzikir akan mengantarkannya kepada nurullah sedangkan seorang mukmin akan melihat dengan nurullah. Dengan daya pancar nurullah itulah seorang mukmin akan menjadi cermin bagi mukmin lainnya. Orang yang berilmu membuat bayangan, tetapi orang ‘arif mengkilaukan cermin hati yang di dalamnya terdapat bayangan hakikat. Apabila mata hati itu bersih berkilauan dan suci, munculah dalam cermin itu berbagai rahasia Allah berupa hakikat yang dicurahkan kepada hati yang bersih berkilauan dan suci.

Apabila cermin hati telah sempurna karena selalu dibersihkan dengan dzikrullah hingga berkilauan, pemilik hati itu akan sampai kepada sifat-sifat Ketuhanan dan mengenal sifat-sifat itu. Hal ini hanya mungkin terjadi bila cermin hati kita telah bersih berkilau.

Sedangkan pembersihan untuk mencapai Dzat Ketuhanan dapat dilakukan dengan cara ber-dzikir dan berkonsentrasi terhadap kalimah tauhid atau kalimah syahadat, dan ini berarti kata kunci dzikir dan wiridnya adalah tentang asma’ Allah.

Kesalah Pahaman Makrifat Menurut Syech Siti Jenar

Kritik Syekh Siti Jenar terhadap Kesalahpahaman Kema’rifatan

Ma’rifat dalam Term al-Qur’an

Ma’rifat dalam term-term al-Qur’an memiliki banyak arti: mengetahui, mengenal, sangat akrab, hubungan yang patut, berhubungan baik dan pengenalan berdasarkan pengetahuan mendalam. Arti ma’rifat ini berasal dari kata yang berakar pada kata ‘arafa, dalam keseluruhan al-Qur’an disebutkan sebanyak 71 kali. Maka jika semua pengertian itu dihimpun dalam satu pengertian, ma’rifat dalam substansi al Qur’an memiliki maksud sebagai pengenalan yang baik serta mendalam berdasarkan pengetahuan yang menyeluruh dan rinci, sebagai buah hasil dari hubungan yang sangat dekat dan baik. Pengertian inilah yang berlaku pada konsep ma’rifat terhadap Allah (ma’rifatullah).

Untuk sampai kepada kesempurnaan ma’rifatullah, oleh karena turunnya al-Qur’an melalui kalbu Rasulullah, maka al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa seseorang juga harus memiliki ma’rifat terhadap rasulullah atau ma’rifatur-rasul.

“orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).” (al-An’am/6: 20).

Jika pengenalan akan Allah sebagaimana pengenalan atas dirinya sendiri (man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu), maka dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa ma’rifatur-rasul identik dengan pengenalan terhadap anak-anak kita sendiri. Jadi betapa dekatnya kita dengan Rasulullah kalau memang kita dapat ber-ma’rifat kepadanya secara benar.

Sebagai bentuk aplikasi dari dua ma’rifat tersebut serta sebagai salah satu cirri telah sampainya kemanunggalan, maka al-Qur’an atau kitab suci dalam diri seseorang menjadi sesuatu yang bersifat aktif. Bukan sesuatu yang pasif dan hanya digunakan sebagai alat justifikasi belaka.

Sebagaimana ditegaskan Syekh Siti Jenar bahwa “ di dalammu ada al-Qur’an” (Serat Siti JEnar, Pupuh 6: 18), maka al-Qur’an sebagai proses “kalam” menyatu dengan kedirian setiap orang. Ia aktif sebagai suluh rohani. Menurut Syekh Siti Jenar, kebanyakan orang tidak berhasil mengenali kitab sucinya, karena sudah hanyut dan tenggelam dalam keduniaan yang dianggap sebagai kehidupan nyata. Hingga akhirnya ia jauh dari suluh ma’rifat.

“Meskipun kalian mengetahui dan secara teoritis tahu caranya melakukan, tentu kalian akan salah mengamalkannya. Sebab kalian masih hanyut tenggelam dalam kesesatan. Melihat barang berupa permata dan emas yang berkilauan, harta kekayaan, serta makanan yang beraneka warna, kalian menjadi terpikat. Jelas bahwa perilaku kalian itu salah. Sudah banyak ilmu yang kalian tuntut, bahkan kadang-kadang kalian bermimpi dalam alam ilmu, tetapi dasarnya kalian santri gundul yang memburu hasil akal yang busuk, maka kalian senang kalau ada yang sedekah.”

Demikian pernyataan Syekh Siti Jenar tentang bagaimana umumnya orang terhalang mengapresiasi kitab suci sebagai sesuatu yang hidup dan aktif (Pupuh 6:26)

Ciri pokok dari orang yang berma’rifat dalam kehidupan didunianya sebagaimana yang dikemukakan Syekh Siti Jenar diatas, bahwa mereka tidak terjebak oleh gemerlapnya dunia, serta mensikapi dunia secara wara’, zuhud’ dan selalu mengembalikan dirinya kepada Allah. Adapun wataknya dalam menjalankan syari’at keagamaan diisyaratkan dalam QS al-A’raf/7: 157.

Sehingga dengan segala pengetahuannya atas Kebenaran (ma’rifatullah) dan ditundukkan mutlaknya kepada Allah, maka mereka selalu tenggelam dalam kebesaran Allah. Mereka larut dalam keagungan-Nya. Sebaliknya, dalam kehidupan dunia ini Allah-pun melimpahkan sebagian kebesaran dan keagungan-Nya kepada hamba-Nya tersebut, sehingga dari diri orang yang ber-ma’rifat dapat mucul karamah-karamah dari Allah. Mereka itulah yang disebut sebagai wali Allah atau auliya’ Allah.

Puncak Makrifatullah

Selain sebagai “Bapak Filsafat Eksistensialisme Islam-Jawa”, Syekh Siti Jenar juga dikenal sebagai auliya’ yang mengakomodasi pola meditasi sebagai bagian dari konteks spiritualitas islam. Akibatnya, dikemudian hari Syekh Siti Jenar juga disebut sebagai “Bapak Ilmu Hening Jawa”.

Pada masa modern kemudian terbukti bahwa dalam mistisisme dikenal suatu cara meditasi atau jalan penempuhan mistik yang jelas alurnya. Yang menurut Evelyn Underhill (1955:75) memiliki stadium secara umum:
a. bangkitnya kesadaran (awakening) yang juga merupakan kebangunan diri pribadi kea rah realitas Ketuhanan. Pada stadium ini individu mengalami eksaltasi (penyaksian keagungan, kemuliaan yang luar biasa) dengan kegembiraan yang terlampaui.
b. Pertobatan diri atau penghancuran dosa diri (purgation), suatu stadium kesediaan dan usaha, muncul setelah merasakan keindahan Tuhan, sehingga ia berusaha membenahi diri (self discipline) dalam bentuk meditasi dan mematikan hawa nafsu.
c. Pencerahan diri (illumination), stadium kegembiraan yang sebenarnya menjurus ke satu eksaltasi, terlepas dari kehidupan alam fana dan muncul kesadaran akan kehadiran Tuhan. Ketiga hal tersebut merupakan awal kehidupan mistik.
d. Pembersihan diri (purification) dari “malam gelap jiwa” (the dark night state), sehingga membentuk kesempurnaan pribadi. Mulai ada kesadaran antara kehadiran Tuhan dengan penyatuan dirinya dengan Tuhan. Untuk proses penyatuan sempurna ia mematikan dan menghilangkan naluri manusiawi (human instince) agar tercapai perasaan bahagia dan ia menjadi pasif.
e. Puncaknya adalah keadaan menyatu atau persatuan (the unity of state) dan kehidupan absolute, bersatu dengan Tuhan sehingga jiwanya telah memasuki alam yang tidak terbatas dan keabadian.

Jelas bahwa Underhill melihat pengalaman keagamaan menyangkut perjuangan diri, melampaui tahap demi tahap proses dengan perjuangan berat sehingga membentuk citra pribadi yang kuat demi keinginan kebersamaan dengan Tuhan. (Dalam ilmu tasawuf perjuangan melampaui tahap demi tahap pencapaian diri disebut al maqamat. Sedang pencitraan pribadi yang kuat sebagai hasilnya disebut sebagai al-ahwal. Sehingga disebutkan bahwa al maqam merupakan hasil dari usaha, sedangkan al-hal merupakan anugerah). Semua itu dalam system ajaran Syekh Siti Jenar diaplikasikan secara utuh sebagai proses kedirian yang konsisten, sistematis dan memusat.

Abraham W.Maslow (Toward:74-94) melukiskan karakteristik dan identitas personal orang yang mengalami pengalaman puncak (peak experience) yang disampaikan dlm buku Toward Psychology of Being :
1. individu yang berada pada pengalaman puncak merasakan menyatu (integrated) dengan segala sesuatu, dirinya , lingkungan, dan alam. Sikapnya juga lebih focus, serasi, efisien, sinergi dan tidak mengalami friksi internal. Secara alamiah ia mudah melebur dengan dunia yang bukan merupakan pribadi. Inilah pencapaian terbesar dari identitas peak experience.
2. ia merasakan dirinya berada di puncak kekuatan. Mampu memanfaatkan kapasitasnya secara penuh, fungsi dirinya utuh menyeluruh (fully function), merasa lebih cerdas, peka, humoris, dan mulia disbanding waktu-waktu biasa. Pencapaian kondisi dan kekuatan tersebut seakan dating dengan sendirinya, sehinga ia tidak mengalami kesukaran atau penurunan fungsi sebagaimana terjadi pada waktu lain.
3. lebih merasa menjadi dirinya sendiri, percaya diri, bertanggung jawab, aktif dan kreatif dalam aktivitas. Ia merasa sebagai penentu utama bagi dirinya.
4. memiliki sikap inklusif, terbebas dari sekat-sekat segala sesuatu. Tanpa memiliki beban rintangan, keilmuan tertentu dan tidak takut pada kritik pribadi. Terlepas dari kondisi subyektif atau obyektif, nilai positif atau negative dari sikap itu.
5. dengan karakteristik kebebasan yang dimiliki, ia cenderung lebih spontan, ekspresif, berpikir cepat, terbuka, sederhana, jujur, ikhlas, polos, santai dan alamiah. Inilah karakteristik otentik seseorang yang mengalami pengalaman puncak. Dengan jiwa kesatuan dan individualitasnya, ia memiliki corak khas yang berbeda disbanding orang lain.
6. pribadi orang itu seperti dewa. Tidak memiliki motovasi atau keinginan, kebutuhan, serta harapan, terutama yang mengarah pada ketidak baikan. Ia bersifat tidak membutuhkan sesuatu, walaupun ia kreatif, itu dilakukannya tanpa pamrih. Dia melakukan sesuatu apa yang seharusnya ia lakukan.
7. ia merasakan puncak kenikmatan, pembebasan, perasaan terharu, kesempurnaan atau perwujudan. Dunia menjadi tampak sempurna, indah, adil, dan seakan menyatu dalam rantai cosmic-connection (saling berkaitan, saling melengkapi, dan sinergi)
8. setelah selesai dari pengalaman puncak, ia merasakan kelegaan luar biasa, keberuntungan yang tidak terduga, karena hal itu terjadi dengan sendirinya, tanpa perencanaan, dan reaksinya tidaklah pernah diharapkan.
9. sebagai akhirnya, ia menjadi hamba yang selalu bersyukur serta selalu berterimakasih kepada apa/siapa saja. Dan segala sesuatu yang menyebabkan keberuntungan itu teralami.

Bandingkan kenyataan-kenyataan tersebut dengan berbagai keadaan, ajaran dan pengalaman spiritual sebagaimana yang telah ditulis di halaman-halaman awal thread ini (yang diambil dari buku Sufisme Syekh Siti Jenar, kajian Serat dan Suluk Siti Jenar, 2004). Sikap-sikap Syekh Siti Jenar akomodatif terhadap kebudayaan Jawa, inklusif terhadap agama lain, dan semangat pembelaannya terhadap rakyat tidak lain merupakan buah dari spiritualitasnya.

Pengalaman keagamaan berikut pencapaian ma’rifatullah merupakan sesuatu yang sulit diukur, tidak bersifat absolute, dan tentu saja tidak akan pernah selesai untuk dikaji. Sebaliknya penelitian tentang pengalaman keagamaan juga tidak mungkin akan pernah selesai, karena setiap saat pengalaman itu akan juga akan bertambah, baik kuantitas maupun kualitas serta bertambahnya pelaku dan penikmat. Sedang pada pelaku masing-masing juga mengalami penambahan di segala pengalaman keagamaannya.

Bagi Syekh SIti Jenar, misteri tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa dipecahkan. Hanya saja caranya harus dengan memasuki misteri itu sendiri, bukan hanya mengamatinya dari luar serta memberikan penilaian dari luar pagar. Misteri tersebut akan terpecahkan dengan memasukinya dan mengalaminya.
Insan Kamil (Wahdat Al Wujud)

Manusia sempurna adalah manusia yang snaggup berproses kedalam kemanunggalan. Sehingga manusia sempurna dalam dirinya berhadapan dengan semua individualisasi eksistensi. Dengan spiritualitasnya, ia berhadapan dengan individualisasi yang lebih tinggi; dengan jasadnya, ia berhadapan dengan individualisasi yang lebih rendah. Hatinya bertemu dengan “Obor Tuhan”(al Arsy), jiwanya bertemu dengan Pena (Qalam), dan rohnya berhadapan dengan lauh al mahfudz. Dalam bahasa SSJ, jasadnya berada di alam kematian, sukmanya mengarah pada kehidupan sejati.

Menurut SSJ, sebagaimana menurut al-Jili dan Ibn “Athaillah (walaupun dalam dataran filosofis), manusia sempurna merupakan copy (nuskha) Tuhan. Hal ini juga didasarkan pada pernyataan hadis bahwa Tuhan menciptakan Adam dalam bayangan dirinya. Demikian pula bahwa al asma’ al husna merupakan perwatakan yang harus disifati oleh manusia. Sehingga proses yang berlangsung setelah penciptaan substansi, maka al asma’ al husna dikonfrontasikan dengan sifat ke-Adaman; ke-Dia-an-Nya (Huwiyya) yang Illahi dikonfrontasikan dengan ke-dia-an Adam; ke-Aku-an Ilahinya dikonfrontasikan dengan kesadaran “aku Adam”, dan esensi Illahinya dengan esensi Adam. Demikianlah, maka dari proses tersebut terkandung implikasi, khususnya pad konteks al insane al kamil.

Menurut SSJ, nama esensial dan sifat-sifat Illahi pada dasarnya menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu suatu keniscayaan yang inhern dalam esensi kemanusiaan. Sehingga dalam hal ini banyak pernyataan Tuhan berfungsi sebagai kaca (mir’u) bagi manusia. Demikian juga halnya bahwa manusia menjadi kaca tempat Tuhan melihat diri-Nya. Sebagai kaca yang dipakai seseorang untuk melihat bentuk dirinya dan tidak bisa melihat dirinya itu tanpa ada kaca tersebut, maka demikian itulah halnya hubungan yang berlangsung antara Allah dengan al insane al kamil. Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa manunggaling kawula Gusti terjadi karena sifat asma Allah menjadi “hak fundamental bagi manusia sempurna”. Hal ini memungkinkan manusia melakukan proses tashfiyat al qulub wa tazkiyat al nafs melalui maqamat dan disiplin kuat menempuh laku spiritual. Dalam hal ini, perjalanan spiritual memang memerlukan kehendak yang kuat. Karena “mereka yang beruntung” mendapatkan anugerahnya jumlahnya lebih sedikit dibanding “mereka yang kurang beruntung”. Bagi “yang kurang beruntung” sangat dibutuhkan kemauan kuat dan disiplin laku yang tinggi agar mampu meraih hak-hak fundamentalnya sebagai manusia sempurna.

Menurut Ranggawarsita (suluk Sopanalaya) untuk dapat manunggal memang diperlukan dzikir dan lelaku sebagai amantu hakikat. “mengheningkan cipta dan merenungkan hakikat Tuhan dengan disertai hati yang penuh kerinduan untuk mendapatkan hidayah-Nya. Barangsiapa yang menerima rahmat dan hidayah-Nya ia dapat manunggal dengan Tuhan”. Hak fundamental inilah yangmenjadikan ajaran SSJ memiliki pengaruh yang kuat karena berefek pada terciptanya semangat egaliter. Semua manusia memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam laku beragama, serta mendapatkan pengalaman spiritual yang tinggi.

Manusia tidak mungkin dapat melihat bentuknya sendiri kecuali melalui kaca Allah, sama halnya ketika dia juga menjadi kaca bagi Tuhan, karena Tuhan ingin agar dirinya melihat dia sendiri dan dikenali. Agar dikenali manusia itulah manusia semprna diciptakan sehingga dengan kaca manusioa, Allah akan melihat Diri-Nya. Dalam hal ini SSJ meyakini dan mengalami bahwa manusia bisa menjadi “mirip” Tuhan, bahkan bisa “memasuki” Tuhan sepenuhnya. Hanya saja tidak mungkin sampai mengindentifikasikan bahwa dirinya adalah sepenuhnya Tuhan. Apalagi bahwa ruh dan jiwanya yang “serba Tuhan” tersebut masih terperangkap di dalam “mayat hidup” dalam bentuk jasad fisik.