Penyingkapan Hijab dan Penyucian Diri Menuju Kemanunggalan
Rahasia Mencapai Derajat Insan Kamil
Menurut Syekh Siti Jenar, insan kamil atau manusia sempurna adalah mereka yang telah memiliki upaya terus-menerus bagi peningkatan dan pembersihan dirinya, yakni mereka yang telah mampu memisahkan dan melepaskan dirinya dari hal-hal keduniaan. Karena memasuki wilayah kemanunggalan, walaupun dalam interaksi fisik kemanusiaan tidak terlepas sama sekali.
Tujuan pembersihan ini ada dua: pertama, untuk mencapai sifat-sifat Allah. Yakni, bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang mulia. Tataran ini mengantarkanpelakunya pada jumbuhing kawula Gusti. Kedua, untuk mencapai Dzat Allah. Yakni, mengenal-Nya melalui ma’rifat dan hakikat yang mengantarkan pelakunya kepada pamoring kawula Gusti.
Pembersihan diri untuk mencapai sifat Allah memerlukan suatu ajaran yang dapat menunjukkan proses pembersihan cermin hati, yakni dengan cara melaksanakan dzikir dan wirid. Terutama tentang asma’ Allah.
Pengertian dzikir dan wirid dalam konteks ini luas. Tidak hanya sekedar dzikir dan wirid dengan bacaan-bacaan tertentu. Dalam hal ini dzikir dan wirid merupakan lelaku rohani yang memasukkan unsur meditasi sebagai bagian terpenting dari ritual rohani tersebut. Sehingga penyebutan dzikir dan wirid otomatis juga memasukkan meditasi di dalamnya.
Lelaku dzikir adalah kunci untuk membuka pintu hati, dan apabila pintu hati telah terbuka, muncullah dari dalamnya pikiran-pikiran yang ‘arif untuk membuka mata hati. Ketika hati telah terbuka, maka akan tampak dan masuklah sifat-sifat Allah melalui mata hati itu, menggugah ketertenggelaman ruh al idhafi kemudian mata hati akan melihat refleksi kasih sayang, kelembutan, keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan Allah dalam cermin hati yang bersih dan berkilauan (al-mir’u al-haya’i).
Dzikir akan mengantarkannya kepada nurullah sedangkan seorang mukmin akan melihat dengan nurullah. Dengan daya pancar nurullah itulah seorang mukmin akan menjadi cermin bagi mukmin lainnya. Orang yang berilmu membuat bayangan, tetapi orang ‘arif mengkilaukan cermin hati yang di dalamnya terdapat bayangan hakikat. Apabila mata hati itu bersih berkilauan dan suci, munculah dalam cermin itu berbagai rahasia Allah berupa hakikat yang dicurahkan kepada hati yang bersih berkilauan dan suci.
Apabila cermin hati telah sempurna karena selalu dibersihkan dengan dzikrullah hingga berkilauan, pemilik hati itu akan sampai kepada sifat-sifat Ketuhanan dan mengenal sifat-sifat itu. Hal ini hanya mungkin terjadi bila cermin hati kita telah bersih berkilau.
Sedangkan pembersihan untuk mencapai Dzat Ketuhanan dapat dilakukan dengan cara ber-dzikir dan berkonsentrasi terhadap kalimah tauhid atau kalimah syahadat, dan ini berarti kata kunci dzikir dan wiridnya adalah tentang asma’ Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar